ISLAM DAN POLITIK
Oleh : ROMAJI
Berbicara mengenai Islam dan politik menjadi sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, karena dalam kehidupan bermasyarakat tidak lepas dari pada kegiatan politik. Islam menjadi agama yang banyak diimani oleh umat manusia diseluruh belahan dunia bahkan di Indonesia. Maka dalam hal ini, yang menjadi pertanyaan besar bagaimana agama Islam ini bisa diterima dikalangan umat manusia. Kemudian apakah Islam tersebut menggunakan jalur politik dalam berdakwah.
Beberapa pengetian mengenai Islam sebagai berikut :
Secara Etimologis : Kata Islam berasal dari kata salima yang artinya selamat dari kata tersebut terbentuk aslama yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh
Secara terminologis : Islam adalah agama wahyu yang berintikan tauhid atau keesaan tuhan yang diturunkan oleh Allah swt kepada nabi Muhammad Saw sebagai utusannya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia dimanapun, kapanpun yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.
Sedangkan pengertian politik sebagai berikut :
Secara etimologis politik berasal dari bahasa yunani yaitu polis. Polis berarti kota yang berstatus Negara kota (city state). Politik juga diartikan sebagai proses interaksi individu dengan individu lainnya untuk mencapai kebaikan bersama.
Menurut Hans Kelsen politik mempunyai dua arti pertama politik sebagai etik, yakni berkenan dengan tujuan manusia atau individu agar tetap hidup secara sempurna. Kedua politik sebagai tekni, yakni berkenaan dengan cara manusia atau individu untuk mencapai tujuan.
Menurut Franz Magnis Suseno politik merupakan segala kegiatan manusia yang berorentasi kepada masyarakat secara keseluruhan, atau yang berorentasi kepada Negara.
Dari pengertian diatas, bahwasannya Islam sebagai ajaran yang memuat segala aspek kehidupan baik individu maupun kenegaraan. Sedangkan politik merupakan sarana untuk mencapai suatu tujuan demi kebaikan bersama baik dalam kehidupan individu, kelompok dan Negara. Disini penulis akan menguraikan bagaimana hubungan Islam dan politik dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad Saw. Perjalanan dakwah nabi Muhammad saw dibagi kedalam dua fase. Yakni fase mekkah dan fase madinah. Artinya aktivitas dakwah nabi Muhammad saw pertama-tama dimulai dari mekkah dan kemudian dikota madinah.
Fase pertama dakwah Nabi Muhammad Saw diMekkah
Sebelum kedatangan Islam, penduduk yang mendiami wilayah Arab dikenal sebagai masyarakat Arab Jahiliyah atau bangsa Jahiliyah. Jahiliyah sendiri berarti kebodohan. Kondisi masyarakat Arab sebelum Islam sangat buruk dan belum memiliki tatanan kehidupan sosial yang teratur. Terdapat kesenjangan antara kaum bangsawan dan masyarakat biasa, di mana kaum bangsawan menjadi terpandang dan memiliki otoritas yang lebih. Selain itu, pada zaman Jahiliyah, sering terjadi peperangan antar suku di tanah Arab dan masyarakatnya banyak yang memiliki kebiasaan buruk serta perbuatan tidak baik. Maka ditengah-tengah krisis moral tersebut nabi Muhammad saw diutus untuk menyebarkan ajaran islam.
Adapun strategi politik yang dipakai oleh Rosulullah Saw dalam menyebarkan Islam sebagai berikut :
Pertama berdakwah secara diam-diam di lingkungan keluarga terdekat dan di kalangan rekan-rekannya. Hal ini dapat dilihat dari firman Allah SWT dalam Surah Asy-Syu‟ara ayat 214: ”Dan berilah peringatan kepada kerabatkerabatmu (Muhammad) yang terdekat”. Karena itulah, orang yang pertama kali menerima dakwahnya adalah keluarga dan sahabat dekatnya, di antaranya: Siti Khadijah (isteri), Ali bin Abi Thalib (sepupu), Abu Bakar (sahabat), Zaid ( budak yang diangkat anak), Ummu Aiman (pengasuh). Abu Bakar berhasil mengislamkan beberapa orang teman dekatnya, seperti Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqas, Thalhah bin Ubaidillah dan al-Arqam bin Abi al-Arqam.
Kedua berdakwah dilakukan dengan cara terang-terangan secara lisan, misalnya memberi nasehat, memberi peringatan dsb. Hal ini dituturkan dalam QS. Al-Hijrayat 94: “Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang yang musyrik”. Sejak turunnya ayat ini, nabi mulai menyampaikan dakwah secara terbuka, sebuah langkah pertama untuk memasukkan gagasan agama ke dalam aktualisasi social dan kehidupan politik.
Fase kedua dakwah Nabi Muhammad Saw dikota Madinah
Madinah dianggap sebagai kelahiran baru agama Islam setelah ruang dakwah diMekah terasa sempit bagi kaum muslimin. Allah SWT memilih Madinah sebagai pilot project pembentukan masyarakat Islam dan Negara Islam pertama. Dakwah nabi Muhammad Saw dimadinah lebih mengarah pada dakwah yang berbasis ruang publik atau pada sistem kenegaraan. Keberhasilan dakwah nabi dapat dilihat pada sikap orang orang Yastrib di perjanjian Aqabah I dan II, dimana mereka mau mengubah sikap dan perilaku mereka, bahkan bersedia menjadi pelindung Nabi Muhammad Saw.
Adapun strategi politik yang dipakai oleh Nabi Muhammad ketika berdakwah dimadinah sebagai berikut:
1. Membangun masjid sebagai sarana Ibadah dan pendidikan
2. Menyatukan kaum muhajirin dan ansor
3. Membuat konstitusi Negara sebagai pernyataan tentang kedaulatan madinah sebagai Negara.
4. Meletakkan dasar-dasar sistem keuangan
Pemikiran politik Islam H.O.S Cokroaminoto sebelum kemerdekaan Indonesia
Sejarah mencatat H.O.S Tjokroaminoto sebagai “Guru Bangsa” disebabkan kesemangatannya dalam mengerakkan masyarakat dan mendidik putra-putra bangsa dalam meraih kemerdekaan bangsa Indonesia dari jeratan penjajahan pemerintah Belanda. Aksi politiknya secara organisatoris dibuktikan dengan kemampuannya menggerakkan SI (Serekat Islam). Sebelum bernama SI (Serikat Islam) nama organisasi tersebut adalah SDI (Serikat Dagang Islam) yang dideklarasikan oleh Haji Samanhoedi berlokasi di Solo bertepatan saat tanggal 16 Oktober 1905 kemudian lewat kongres di Surabaya pada tahun 1912 H. Samanhudi memberikan kepemimpinannya kepada HOS Tjokroaminoto. Dalam pertemuan akbar tersebut juga SDI (Serikat Dagang Islam) yang awalnya memiliki fokus dalam dunia perdagangan berubah kepada gerakan politik yang universal. Cita-cita pertama berdirinya Serikat Islam sebagai perlawanan kepada pedagang China yang saat itu mulai berkuasa di Nusantara akibat dari suksesnya revolusi China pada tahun 1911. Revolusi yang sukses menyingkirkan Puyi, Kaisar terakhir China dari dinasti Qing. Maka dari itu SI (Serikat Islam) menjadi organisasi pertama yang didirikan di Indonesa yang memiliki nuansa ekonomi, Politik dan Religius.
Apabila diperhatikan gerakan H.O.S Tjokroaminoto terlihat bahwa hal itu merupakan bentuk Reaksi terhadap situasi politik pada masa pemerintah colonial belanda. Beliau berjuang untuk mengembalikan kemerdekaan masyarakat yang dikuasai oleh pemerintah kolonial Belanda. Ide tentang konsep pemerintahan sendiri sesungguhnya dimunculkan oleh H.O.S Tjokroaminoto pada pembukaan kongres tanggal 17 Juni di Bandung tahun 1916 Dalam kongres tersebut H.O.S Tjokroaminoto menyampaikan,
“Para masyarakat yang hadir jangan menjadi risau, karena pada perjumpaan kali ini kita dengan lantang harus mengucapkan kata-kata Zelfbestuur dengan kata lain pemerintahan sendiri.”
Dalam kongres yang digelar itu H.O.S Tjokroaminoto berusaha untuk mengungkapkan pandangannya tentang kedaulatan rakyat dan kemandirian bangsa dalam mengatur tata kelola pemerintahan. Apa yang disampaikan Oleh H.O.S Tjokroaminoto telah membawa masyarakat untuk lebih kritis dalam menyikapi penjajahan, selanjutnya masyarakat semakin bergerilya untuk melawan penjajahan. Sebelum akhirnya proklamasi dilakukan oleh muridnya yaitu Soekarno (Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia) pada tanggal 17 Agustus tahun 1945.
Adapun langkah-langkah strategi politik yang dihadirkan oleh H.O.S Tjokroaminoto sebagai berikut :
1. Ideologi Perjuangan yaitu Nasionalisme Islam dan sosialisme Islam
2. Kepemimpinan
3. Gerakan politik perlawanan terbagi tiga yaitu gerakan politik nasional, melakukan konsolidasi menuju kemerdekaan dan membangun pendidikan tauhid untuk kemakmuran
4. Negara Integralistik
Dari uraian diatas, penulis menyimpulkan bahwa Islam dan politik merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan keduanya sama-sama saling berintegrasi, politik dalam islam menjuruskan kegiatan ummat kepada usaha untuk mendukung dan melaksanakan syariat islam melalui sistem kenegaraan dan pemerintahan. Politik islam merupakan kekuasaan yang dapat melahirkan sikap dan perilaku politik. Islam meletakkan politik sebagai salah satu solusi untuk memecahkan segala urusan umat, sehingga islam dan politik tidak boleh dipisahkan karena islam jika tanpa politik dapat menumbuhkan sistem-sistem pemerintahan dimana kaum muslim yang tidak mempunyai kebebasan dalam melakukan syariat islam. Begitupun politik tanpa Islam hanya mengagungkan kekuasaan, kosong dari aspek moral dan spiritual.
Sumber Referensi :
Jauhari, Idris, Sejarah Nabi Muhammad, Sumenep: Mutiara, 2005.
Natsir M, Islam sebagai dasar Negara, Bandung: Sega Arsy, 2004.
Tjokroaminoto, HOS. Tafsir Program Asas dan Program Tandhim. Jakarta: Putjuk
Pimpinan PSII, 1958.
Tjokroaminoto, Islam dan Sosialisme, Jakarta: Bulan Bintang, 1950.
Tjokroaminoto, Memeriksai Alam Kebenaran, Jakarta: Weltevreden, 1979.
Tjokroaminoto, Moslem National Onderwijs, Malang: Peneleh, 2020.
Tjokroaminoto, Reglement Umum Bagi Umat Islam, Jakarta: Putjuk Pimpinan PSII,
1934.