Rabu, 26 Oktober 2022

Pengantar Filsafat



PENGATAR FILSAFAT

Oleh :  Romaji 

Pengetahuan dimulai dari rasa ingin tahu dan kepastian atau kebenaran dimulai dari rasa ragu-ragu. Sedangkan filsafat dimulai dari keduanya.


A. Dari Mitos kelogos

Sebelum filsafat lahir dan berkembang pesat, di yunani telah berkembang berbagai mitos. Bahkan filsafat pertama kali berkembang melalui jalan mitologi. Mitos yang berkembang merupkan metode yang dijadikan cara untuk memahami segala sesuatu yang ada.[1] Berbagai pertanyaan terhadap ketidaktahuan atau kepenasaran manusia terhadap eksistensi jagat raya ini, jawabannya hanya ada didalam mitos. Pertanyaan dari mana asal bumi dan bagaimana bumi diciptakan, mengapa iba-tiba bumi menjadi gelap, kemudian terang kembali, sebelum manusia bisa memberikan jawaban yang rasional atau ilmiah manusia hanya menggunakan jawaban dengan pendekatan mitos. Seperti dalam cerita mitologi terjadinya bumi gelap karena digenggam oleh raksasa yang sedang marah. ketika ada petir yang menyambar isi alam semesta manusia mengira dewa zeus sedang marah dan ketika terjadinya tsunami manusia mengira dewa posaidon marah. sehingga manusia harus berusaha merendahkan kemarahannya dengan berbagai cara, misalnya dengan memberikan sesajen, bersujud dan mensakralkan tempat dewa-dewa meyakini adanya kekuatan lain dari alam fisik, adanya para dewa dan sebagainya. khayalan-khyalan itu menjadi keyakinan yang selanjutnya membentuk pemahaman normatif tentang setiap keberadaan dan kekuatan yang ada didalamnya.

Akan tetapi, ketika zaman semakin maju orang-orang diyunani mulai berikir mengenai eksistensi alam semesta melalui rasio, karena mereka mengangap jawaban tentang alam semesta melalui mitos kurang rasional dan tidak masuk akal. Maka muncul orang-orang seperti solon, bias, pittakos, chilon, periandos, kleobolus, thales, anaximandros, anaximenes, zeno, Socrates, plato, aristoteles dll. Mereka mulai melakukan kajian-kajian menganai alam semesta dengan pendekatan logika yang rasional.

B. Pengertian Filsafat 

Filsafat (dalam bahasa Arab adalah falsafah, dan dalam bahasa Inggris adalah philosophy) berasal dari bahasa Yunani. Kata ini terdiri dari kata ‘philein’ yang berarti cinta (love) dan sophia’ kebijaksanaan (wisdom). Secara etimologis, filsafat berarti berarti cinta kebijaksanaan (love of wisdom) dalam artinya sedalam-dalamnya. Seorang filosof (philosopher) adalah pencinta, pendamba dan pencari kebijaksanaan. Menurut catatan sejarah, kata ini pertama kali digunakan oleh Pythagoras, seorang filosof Yunani yang hidup pada 582-496 sebelum Masehi.

Cicero (106-43 SM), seorang penulis Romawi terkenal pada zamannya dan sebagian karyanya masih dibaca hingga saat ini, mencatat bahwa kata ‘filsafat’ dipakai Pythagoras sebagi reaksi terhadap kaum cendekiawan pada masanya yang menamakan dirinya ‘ahli pengetahuan’ Pythagoras menyatakan bahwa pengetahuan itu begitu luas dan terus berkembang. Tiada seorangpun yang mungkin mencapai ujungnya. Jadi, jangan sombong menjuluki diri kita ‘ahli’ dan ‘menguasai’ ilmu pengetahuan, apalagi kebijaksanaan. Kata Pythagoras, kita ini lebih cocok dikatakan sebagai pencari dan pencinta pengetahuan dan kebijaksanaan, yakni filosof.

Adapun ada beberapa ahli dalam mendefinisikan filsafat diantaranya sebagai berikut :

1. Plato (427-347 SM) berpendapat Filsafat adalah ilmu yang membicarakan Hakikat sesuatu.

2. Aristoteles berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang kebenaran yang meliputi Logika,fisika, metafisika dan pengetahuan peraktis.[1]

3. Imanuel Khan (1724-1804) salah seorang filosof diabad modern mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan mengenai pokok pangkal dari segala pengetahuan dan perbuatan.

4. Al-farabi seorang filosof muslim mengatakan bahwa filsafat merupakan ilmu yang bertugas untuk mengetahui semua yang ada karena ia ada (Al-ilmu bi maujudat bima hiya maujudah)

C. Ciri-ciri berfikir Filsafat

Ciri-ciri berfikir filsafat diantaranya sebagai berikut :[1]

  1.   Universal (menyeluruh), yaitu pemikiran yang luas dan tidak aspek tertentu saja.
  2. Radikal (mendasar), yaitu pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang fundamental dan essensial.
  3. Sistematis, yaitu mengikuti pola dan metode berpikir yang runtut dan logis meskipun spekulatif.
  4. Deskriptif, yaitu suatu uraian yang terperinci tentang sesuatu, menjelaskan mengapa sesuatu berbuat begitu.
  5. Kritis, yaitu mempertanyakan segala sesuatu (termasuk hasil filsafat).
  6. Spekulatif, yaitu upaya akal budi manusia yang bersifat perekaan, penjelajahan dan pengandaian dan tidak membatasi hanya pada rekaman indera dan pengamatan lahiriah

D. Objek kajian filsafat

Yang menjadi objek kajian filsafat secara umum meliputi sebagai berikut :

  1. teologis
  2. cosmologis
  3. antropologis
E. Landasan-landasan Berfikir Filsafat
  1. Ontologi (apa)
  2. Epistimologi (Bagaimana)
  3. Aksiologi (Nilai)
F. Kedudukan Cabang-cabang Filsafat

Filsafat menempati suatu tingkat paling tinggi dalam kaitannya dengan segala ilmu pengetahuan yang ada dialam semesta, dalam belantara kajian filsafat kita akan mengetahui betapa luas kajian filsafat masuk keberbagai aspek kehidupan dari awal zaman maupun akhir zaman. Sehingga filsafat banyak memberikan jasa bagi disiplin ilmu yang semuanya bercabang-cabang dan berkembang sesuai dengan disiplin masing-masing.
Berikut beberapa pengertian mengenai cabang-cabang ilmu pengetahuan sebagai berikut :
Harry Hamersma membagi cabang-cabang filsafat menjadi tiga, yakni:
  1.  Filsafat tentang pengetahuan yaitu Epistemologi, Logika, Kritik Ilmu
  2. Filsafat tentang kenyataan menyeluruh yaitu Metafisika umum (ontologi),  Metafisika khusus, teologi metafisika, antropologi, kosmologi.
  3. Filsafat tentang tindakan yaitu, Etika dan Estetika
    Di samping itu, masih menurut Hamersma, ada cabang-cabangfilsafat khusus, antara lain: filsafat  seni, filsafat kebudayaan, filsafat pendidikan, filsafat sejarah, filsafat bahasa, filsafat hukum, filsafat agama, filsafat sosial, dan filsafat politik. Berdasarkan pembagian cabang filsafat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa tampak demikian luas bidang penelaahan filsafat itu. Padahal, cabang-cabang tersebut masih dapat diperinci lagi menjadi ranting-ranting, dan sebagiannya bahkan berkembang menjadi bidang filsafat yang berpengaruh. Hal ini kembali kepada ciri filsafat bahwa ia bersifat umum, universal dan ultimate (tertinggi).

G. Teori Kebenaran
  1. Kebenaran koherensi : Kebenaran koherensi adalah teori kebenaran yang didasarkan kepada kriteria koheren atau konsistensi. Suatu pernyataan disebut benar bila sesuai dengan jaringan komprehensif dari proposisi-proposisi yang berhubungan secara logis. Yaitu induksi dan deduksi.
  2. Kebenaran korespondensi : Teori kebenaran korespondensi adalah teori yang berpandangan bahwa kebenaran bisa dikatakan benar ketika sesuai dengan fakta dilapangan atau pada objek yang dituju.

  3. kebenaran pragmatis : Kebenaran pragmatis berpandangan bahwa arti dari ide dibatasi oleh referensi pada konsekuensi ilmiah, personal atau sosial. benar tidaknya dalil dan teori tergantung pada faedahnya bagi kehidupan manusia.
  4. kebenaran Konsensus : Kebenaran konsensus adalah proses penilaian kebenaran hanya karena orang-orang menyetujui
  5. kebenaran Otoritas : Kebenaran otoritas adalah kebenaran yang dikatakan oleh orang-orang yang mempunyai power atau pihak penguasa..
H. Manfaat Belajar Filsafat

kegunaan  belajar filsafat adalah kemampuannya untukmemperluas bidang-bidang keinsafan kita. Banyak orang memiliki pengetahuan yang banyak tetapi picik, mempunyai keterampilan yang berharga, tetapi tidak berwawasan, dan berkuasa tetapi tidak berprikemanusiaan. Mereka tidak insyaf. Mereka laksana katak dalam tempurung. Karena tersungkup dalam ruang kecil pengap, mereka menyombongkan diri dan mengira bahwa merekalah paling pintar, paling terampil, paling berkuasa, paling ahli, dan paling segalanya. Filsafat akan mampu menguakkan awan tebal yang meliputi surya kearifan, serta mampu membebaskan mereka dari ‘tempurung yang menyesatkan itu’. Ketidakmampuan filsafat memberikan jawaban pasti terhadap permasalahan kehidupan akan membuat kita sadar, insyaf dan tidak sombong atas keterbatasan manusia sebagai manusia dengan belajar filsafat kita akan lebih manusiawi. Seperti yang diungkapkan oleh filsuf agung Socrates “kebijaksanaan sejati kita sadar bahwa diri kita tidak tau apa-apa”.


Referensi :

Atang Abdul Hakim & Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum dari metologi sampai teofilosofi, Bandung : Pustaka setia, 2018.

https://bengkelnarasi.com/2021/09/12/belajar-filsafat-teori-teori-kebenaran/

Nur A Fadhil Lubis, pengantar Filsafat Umum, Medan : Perdana Publishing, 2015.

Nurani Suyomukti, pengantar Filsafat Umum, Jogjakarta : ar-ruzz media, 2011.

Beni Ahmad Saebani, Filsafat Manajemen, Bandung : Pustaka Setia, 2017.

Rabu, 17 Agustus 2022

Bertali Rindu

 


Bertali Rindu
Oleh : Romaji

Ditengah lelah dalam perjalanan tak terukir dari keringat yang keluar
Angin menjadi selimut dalam kesendirian tak lupa bayangannya abadi dalam harapan


Sunyi menjadi tenang, lapar menjadi kenyang tatapan rindu tak mampu terurai. Sebagai makhluk yang murni, pasti menginginkan akan kasih sayang


Dikau menyapa sepiku dalam tali rindu bermukim dalam detakan jantung
Mata tak mampu melihat semesta, yang ada hanyalah kerinduan buta.


Bunyi-bunyi binatang dimalam hari, petanda ada kasih dan cinta untuk melengkapi.
Suara gemuruh samudera tak dapat menembus kain sutra yang terukir dihiasan ka'bah


Harapan do,a ibarat busur panah menancap pada langit, berkeliaran seperti tanaman padi


Satu-satunya adalah permintaan terbesar bagi smesta bahwa tali rindu terikat dalam dada.


Satu demi satu apakah rindu dapat dimengerti, ataukah rindu sendiri tak dapat untuk dimengerti

Tali bathin pergi menemui rindu bagi sang pujangga yang menanti.


                                                                                    Sampang, 10 Agustus 2022

KONSEP AJARAN ISLAM DALAM MEMENUHI HAK KAUM PEKERJA (Studi kasus Pekerja Rumah Tangga di Indonesia)


 

KONSEP AJARAN ISLAM DALAM MEMENUHI HAK KAUM PEKERJA

(Studi kasus Pekerja Rumah Tangga di Indonesia)

Oleh : Romaji

Islam merupakan agama samawi yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad saw melalui melaikat jibril, tujuannya untuk mengembalikan umat manusia pada fitrahnya. Ajaran Islam sifatnya universal karena tidak hanya membahas mengenai permasalahan dunia, akan tetapi, ajaran Islam juga memberikan informasi mengenai permasalahan yang ada diakhirat. Ajaran islam sangat memperhatikan aspek kehidupan seperti keadilan, ekonomi, kenegaraan, pendidikan, kemanusiaan dan para pekerja. Seperti dalam firman Allah swt didalam Alqur,an sebagai berikut :

“Artinya : dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Saba’ : Ayat 28).” 

Dari ayat diatas, menerangkah bahwa nabi Muhammad saw diutus kepada semua umat manusia, ia bertugas sebagai pembawa risalah sekaligus peringatan kepada orang-orang yang mengingkari dan menolak ajaran-ajarannya. Sebagai risalah yang terakhir didalamnya tercantum peraturan-peraturan dan syariat hukum-hukum yang layak dan baik untuk dijalankan disetiap tempat dan masa. Maka dari itu, ajaran Islam juga memperhatian kehidupan sosial terkhususnya hak-hak bagi para pekerja. Seperti dalam firman Allah Swt didalam Al-qur’an sebagai berikut :

“Artinya : janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela dimuka bumi dengan membuat kerusakan. (QS. Asy-Syuara: Ayat 183).”

Dari ayat diatas, menerangkan bahwa pada prinsipnya hubungan antar manusia menurut islam adalah tidak boleh mendzolimi dan tidak boleh dizalimi dengan cara apapun dan dalam bidang apapun termasuk dalam memenuhi hak para pekerja baik dari segi keamanan, gaji dan jaminan sosial. Akan tetapi, banyak kasus yang terjadi di Negara Indonesia mengenai para pekerja terkhusus bagi pekerja rumah tangga yang tidak mendapatkan hak dalam bekerja, seperti hak keamanan, hak gaji dan hak jaminan sosial.

Berikut data kasus kekerasan PRT diIndonesia sebagai berikut :

Sumber:https://www.suara.com/news/2022/03/10/135000/jalan-panjang-berliku-mencari-perlindungan-untuk-prt

"Suara.com - Sudah 21 tahun  Sunarsih pergi. Ketika mengembuskan napas terakhirnya usia Sunarsih masih 14 tahun. Dia  berangkat mengadu nasib dari Pasuruan, Jawa Timur ke Surabaya untuk menjadi pekerja rumah tangga. Tapi di Surabaya Sunarsih seolah hanya mengantar nyawa. Ia meninggal setelah mengalami penganiayaan oleh majikannya, selama bekerja ia kerap dipukul, disekap dan dipaksa kerja tanpa henti hingga akhirnya meninggal pada 12 Februari 2001. Dalam proses hukumnya, keadilan tidak berpihak pada Sunarsih. Nyawa Sunarsih ditebus dengan vonis ringan. Ita hanya dihukum dua tahun penjara. Setelah selesai menjalani hukuman, ia bebas melenggang dan menjadi pelaku kekerasan lagi untuk Pekerja Rumah Tangga (PRT) lainnya. Kini 21 tahun kemudian kondisi serupa masih kerap dialami oleh ‘Sunarsih’ lainnya. Data Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT) mencatat bahwa sepanjang 2015 - 2022 terdapat 3.255 kasus kekerasan yang dialami oleh PRT di Indonesia. Jumlah tersebut juga terus meningkat setiap tahunnya. Sebagai perbandingan, kekerasan terhadap PRT pada tahun 2018 tercatat sebanyak 434 kasus. Angka itu meningkat di tahun 2019 menjadi 467 kasus. Koordinator Nasional Jaringan Nasional Advokasi (Jala) PRT Lita Anggraini mengatakan, bahwa PRT terkadang juga mengalami kekerasan berlapis seperti yang dialami oleh Sunarsih. Kekerasan itu berupa fisik hingga psikis. Kondisi tersebut menurut Lita terjadi akibat kekosongan tidak adanya pengakuan bahwa PRT merupakan bagian dari pekerja.

PRT Sebagai Soko Guru  Pekerja Rumah Tangga (PRT). (Dok: Instagram/JalaPRT) Pekerja Rumah Tangga (PRT). (Dok: Instagram/JalaPRT) Padahal peran PRT menurut Lita juga sangat vital. Bahkan, dalam istilah Lita PRT adalah soko guru atau tonggak perekonomian lokal, nasional dan global. Kerja-kerja yang dilakukan oleh PRT, lanjut Lita, adalah yang memastikan aktivitas publik di semua sektor bisa terus berjalan.  “Padahal PRT itu penopang ekonomi dan aktivitas orang-orang. Misal semua bekerja dan tidak ada PRT yang mengerjakan pekerjaan domestik di rumah tentu akan susah,” kata Lita.  Hingga saat ini saat ini PRT sendiri menjadi salah satu posisi jumlah tenaga kerja terbesar Indonesia.  Data ILO Jakarta 2015 jumlah PRT di Indonesia sebesar 4,2 juta, 84 persen di antaranya ialah perempuan. Kebutuhan akan PRT menurut Lita bahkan diperkirakan meningkat pada tahun 2021 hingga sekitar 5 juta. Oleh sebab itu terminologi pekerja dalam istilah PRT juga merupakan salah satu yang diperjuangkan oleh Lita bersama Jala PRT. Sebab istilah pembantu atau asisten rumah tangga menurut Lita, dan juga para PRT sangat bias dan abu-abu.  “Tapi mereka kan bekerja, bukan hanya membantu. Mereka juga memenuhi unsur hubungan kerja karena unsur pekerjaan, perintah dan juga upah. Semua unsur hubungan kerja ada. Jelas posisinya sebagai pekerja,” ujar Lita."

Dari data kasus diatas, menunjukkan bahwa kekerasan sering terjadi terhadap para pekerja rumah tangga diIndonesia. Hal ini perlu ditangani secara serius oleh pemerintah dan masyarakat, sehingga kejadian tersebut tidak terulang kembali. Lalu bagaimana pandangan Islam dalam menyikapi hal tersebut.

Berikut beberapa konsep ajaran Islam dalam memenuhi hak kaum pekerja.

1. Pekerja Merupakan Saudara

Dalam Islam memberikan ketegasan bahwa sebagai makhluk ciptaan Allah swt semuanya adalah bersaudara bahkan satu umat dalam sejarah manusia seperti dalam firman Allah didalam Al-qur’an sebagai berikut : 

“Artinya : manusia itu dahulunya satu ummat. Lalu allah mengutus para nabi untuk menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkannya bersama mereka kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Dan yang berselisih hanyalah orang-orang yang telah diberi kitab, setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka, karena kedengkian diantara mereka sendiri. Maka dengan kehendaknya, Allah member petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah member petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki ke jalan yang lurus. (QS. Al-Baqarah : ayat 213)”.

Dalam Ayat Lain didalam Al-qur'an dijelaskan sebagai berikut :

“Artinya : Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapatkan rahmat. (QS. Al-hujurat : ayat 10)”.

Dari ayat diatas, menjelaskan bahwa manusia yang satu dengan yang lain adalah saudara, islam membangun struktur sosial dimana setiap individu disatukan oleh hubungan persaudaraan dan rasa sayang sebagaimana sepasang keluarga yang diciptakan Allah swt. Maka dari itu, hubungan majikan dan pekerja merupakan hubungan kekeluargaan dimana didalamnya ada simbiosis mutualisme keduanya saling membutuhkan dan saling menguntungkan.

2. Pemberian Beban Kerja tidak boleh melebihi kemampuan

Islam memberikan keterangan mengenai larangan memberikan beban kerja yang dluar batas kemampuan, seperti dalam hadist Nabi Muhammad Saw sebagai berikut :

“Artinya: Janganlah kamu memberikan beban pekerjaan yang mereka (pembantumu) tidak sanggup melakukannya. Apabila kamu memberi pekerjaan melebihi ukuran, kamu harus turun tangan membantunya. (HR Bukhari dan Muslim)”.

Dari hadist diatas, menerangkan bahwa islam memberikan konsep kemanusiaan yang tinggi, karena ketika seorang majikan memberikan pekerjaan yang berat maka disitu kewajiban seorang majikan untuk ikut membantu pekerjaan tersebut.

3. Jaminan sosial terhadap Pekerja

Ajaran Islam memerintahkan berbuat adil, ikhsan serta menganjurkan untuk bertanggung jawab terhadap orang-orang yang ada disekitarnya, dalam Islam diwajibkan memberikan jaminan sosial bagi para pekerja, seperti dalam hadist Rosulullah Saw sebagai berikut :

“Artinya : Saudara-saudaramu yang membantumu itu adalah tanggunganmu yang oleh Allah dijadikan dibawah kekuasaanmu. (HR. Bukhari dan Muslim)”.

Dari hadist diatas, menerangkan bahwa seorang majikan dianjurkan untuk memberikan jaminan sosial terhadap para pekerja, seperti kesehatan, keamanan dan jaminan bagi pekerja yang sudah lanjut usia.

4. Pemberian upah yang layak dan tepat waktu

Dalam ajaran Islam dianjurkan sebelum seseorang melakukan pekerjaan diharuskan melakukan perjanjian atau kesepakatan tentang upah yang akan diterimanya, baik terkait besaran, waktu dan tempat penyerahannya. Islam sangat menerapkan konsep etika dalam membayar para pekerja, seperti yang dijelaskan dalam hadist Nabi Muhammad Saw sebagai berikut:

“Artinya : Anas berkata bahwa Nabi Muhammad Saw pernah melakukan bekam dan tidak sekali-kali beliau mendzholimi seseorang atas upahnya. (HR. Al-Bukhari)”. 

dalam hadist lain dijelaskan sebagai berikut ;

“Artinya : berikanlah kepada pekerja upahnya sebelum keringatnya kering. (HR. Ibnu Majah, Shahih)”.

Dari hadist diatas, memberikan keterangan untuk segera menunaikan hak sipekerja setelah selesai pekerjaan, hal ini juga berkaitan dengan kesepakatan yang sudah ditentukan diawal.

Rerefensi :

Departemen Agama Republik Indonesia, Alqur’an Dan Terjemahannya, Semarang : Pt. Taha Putra, 2020.

https://www.suara.com/news/2022/03/10/135000/jalan-panjang-berliku-mencari-perlindungan-untuk-prt. Diakses, 25 juni 2022.

Isnaini, Dkk, Hadist-Hadist Ekonomi, Jakarta: Kencana, 2017.

Miskahuddin, Pekerjaan Mulia Dalam Perspektif Al-Qur,An, Jurnal Ilmiah Al Mu’ahirah, Volume. 18 Nomer. 2 Januari 2021.

Muhammad, Al-Assal Ahmad Dan Abdul Karim, Fathi Ahmad, Sistem, Prinsip Dan Tujuan Ekonomi Islam, Bandung : Pustaka Setia, 1999

    



Sabtu, 18 Juni 2022

Relevansi Islam dan Politik Dalam Perspektif Historis

 


ISLAM DAN POLITIK 

Oleh : ROMAJI

Berbicara mengenai Islam dan politik menjadi sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, karena dalam kehidupan bermasyarakat tidak lepas dari pada kegiatan politik. Islam menjadi agama yang banyak diimani oleh umat manusia diseluruh belahan dunia bahkan di Indonesia. Maka dalam hal ini, yang menjadi pertanyaan besar bagaimana agama Islam ini bisa diterima dikalangan umat manusia. Kemudian apakah Islam tersebut menggunakan jalur politik dalam berdakwah. 

Beberapa pengetian mengenai Islam sebagai berikut :

Secara Etimologis : Kata Islam berasal dari kata salima yang artinya selamat dari kata tersebut terbentuk aslama yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh 

Secara terminologis : Islam adalah agama wahyu yang berintikan tauhid atau keesaan tuhan yang diturunkan oleh Allah swt kepada nabi Muhammad Saw sebagai utusannya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia dimanapun, kapanpun yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.

Sedangkan pengertian politik sebagai berikut :

Secara etimologis politik berasal dari bahasa yunani yaitu polis. Polis berarti kota yang berstatus Negara kota (city state). Politik juga diartikan sebagai proses interaksi individu dengan individu lainnya untuk mencapai kebaikan bersama.

Menurut Hans Kelsen politik mempunyai dua arti pertama politik sebagai etik, yakni berkenan dengan tujuan manusia atau individu agar tetap hidup secara sempurna. Kedua politik sebagai tekni, yakni berkenaan dengan cara manusia atau individu untuk mencapai tujuan.

Menurut Franz Magnis Suseno politik merupakan segala kegiatan manusia yang berorentasi kepada masyarakat secara keseluruhan, atau yang berorentasi kepada Negara.

Dari pengertian diatas, bahwasannya Islam sebagai ajaran yang memuat segala aspek kehidupan baik individu maupun kenegaraan. Sedangkan politik merupakan sarana untuk mencapai suatu tujuan demi kebaikan bersama baik dalam kehidupan individu, kelompok dan Negara. Disini penulis akan menguraikan bagaimana hubungan Islam dan politik dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad Saw. Perjalanan dakwah nabi Muhammad saw dibagi kedalam dua fase. Yakni fase mekkah dan fase madinah. Artinya aktivitas dakwah nabi Muhammad saw pertama-tama dimulai dari mekkah dan kemudian dikota madinah. 

Fase pertama dakwah Nabi Muhammad Saw diMekkah

Sebelum kedatangan Islam, penduduk yang mendiami wilayah Arab dikenal sebagai masyarakat Arab Jahiliyah atau bangsa Jahiliyah. Jahiliyah sendiri berarti kebodohan. Kondisi masyarakat Arab sebelum Islam sangat buruk dan belum memiliki tatanan kehidupan sosial yang teratur. Terdapat kesenjangan antara kaum bangsawan dan masyarakat biasa, di mana kaum bangsawan menjadi terpandang dan memiliki otoritas yang lebih. Selain itu, pada zaman Jahiliyah, sering terjadi peperangan antar suku di tanah Arab dan masyarakatnya banyak yang memiliki kebiasaan buruk serta perbuatan tidak baik. Maka ditengah-tengah krisis moral tersebut nabi Muhammad saw diutus untuk menyebarkan ajaran islam. 

Adapun strategi politik yang dipakai oleh Rosulullah Saw dalam menyebarkan Islam sebagai berikut :

Pertama berdakwah secara diam-diam di lingkungan keluarga terdekat dan di kalangan rekan-rekannya. Hal ini dapat dilihat dari firman Allah SWT dalam Surah Asy-Syu‟ara ayat 214: ”Dan berilah peringatan kepada kerabatkerabatmu (Muhammad) yang terdekat”. Karena itulah, orang yang pertama kali menerima dakwahnya adalah keluarga dan sahabat dekatnya, di antaranya: Siti Khadijah (isteri), Ali bin Abi Thalib (sepupu), Abu Bakar (sahabat), Zaid ( budak yang diangkat anak), Ummu Aiman (pengasuh). Abu Bakar berhasil mengislamkan  beberapa orang teman dekatnya, seperti Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqas, Thalhah bin Ubaidillah dan al-Arqam bin Abi al-Arqam. 

Kedua berdakwah dilakukan dengan cara terang-terangan secara lisan, misalnya memberi nasehat, memberi peringatan dsb. Hal ini dituturkan dalam QS. Al-Hijrayat 94: “Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang yang musyrik”. Sejak turunnya ayat ini, nabi mulai menyampaikan dakwah secara terbuka, sebuah langkah pertama untuk memasukkan gagasan agama ke dalam aktualisasi social dan kehidupan politik. 

Fase kedua dakwah Nabi Muhammad Saw dikota Madinah

Madinah dianggap sebagai kelahiran baru agama Islam setelah ruang dakwah diMekah terasa sempit bagi kaum muslimin. Allah SWT memilih Madinah sebagai pilot project pembentukan masyarakat Islam dan Negara Islam pertama. Dakwah nabi Muhammad Saw dimadinah lebih mengarah pada dakwah yang berbasis ruang publik atau pada sistem kenegaraan. Keberhasilan dakwah nabi dapat dilihat pada sikap orang orang Yastrib di perjanjian Aqabah I dan II, dimana mereka mau mengubah sikap dan perilaku mereka, bahkan bersedia menjadi pelindung Nabi Muhammad Saw. 

Adapun strategi politik yang dipakai oleh Nabi Muhammad ketika berdakwah dimadinah sebagai berikut:

1. Membangun masjid sebagai sarana Ibadah dan pendidikan

2. Menyatukan kaum muhajirin dan ansor

3. Membuat konstitusi Negara sebagai pernyataan tentang kedaulatan madinah sebagai Negara.

4. Meletakkan dasar-dasar sistem keuangan


Pemikiran politik Islam H.O.S Cokroaminoto sebelum kemerdekaan Indonesia

Sejarah mencatat H.O.S Tjokroaminoto sebagai “Guru Bangsa” disebabkan kesemangatannya dalam mengerakkan masyarakat dan mendidik putra-putra bangsa dalam meraih kemerdekaan bangsa Indonesia dari jeratan penjajahan pemerintah Belanda. Aksi politiknya secara organisatoris dibuktikan dengan kemampuannya menggerakkan SI (Serekat Islam). Sebelum bernama SI (Serikat Islam) nama organisasi tersebut adalah SDI (Serikat Dagang Islam) yang dideklarasikan oleh Haji Samanhoedi berlokasi di Solo bertepatan saat tanggal 16 Oktober 1905 kemudian lewat kongres di Surabaya pada tahun 1912 H. Samanhudi memberikan kepemimpinannya kepada HOS Tjokroaminoto. Dalam pertemuan akbar tersebut juga SDI (Serikat Dagang Islam) yang awalnya memiliki fokus dalam dunia perdagangan berubah kepada gerakan politik yang universal. Cita-cita pertama berdirinya Serikat Islam sebagai perlawanan kepada pedagang China yang saat itu mulai berkuasa di Nusantara akibat dari suksesnya revolusi China pada tahun 1911. Revolusi yang sukses menyingkirkan Puyi, Kaisar terakhir China dari dinasti Qing. Maka dari itu SI (Serikat Islam) menjadi organisasi pertama yang didirikan di Indonesa yang memiliki nuansa ekonomi, Politik dan Religius.

Apabila diperhatikan gerakan H.O.S Tjokroaminoto terlihat bahwa hal itu merupakan bentuk Reaksi terhadap situasi politik pada masa pemerintah colonial belanda. Beliau berjuang untuk mengembalikan kemerdekaan masyarakat yang dikuasai oleh pemerintah kolonial Belanda. Ide tentang konsep pemerintahan sendiri sesungguhnya dimunculkan oleh H.O.S Tjokroaminoto pada pembukaan kongres tanggal 17 Juni di Bandung tahun 1916 Dalam kongres tersebut H.O.S Tjokroaminoto menyampaikan,

“Para masyarakat yang hadir jangan menjadi risau, karena pada perjumpaan kali ini kita dengan lantang harus mengucapkan kata-kata Zelfbestuur dengan kata lain pemerintahan sendiri.” 

Dalam kongres yang digelar itu H.O.S Tjokroaminoto berusaha untuk mengungkapkan pandangannya tentang kedaulatan rakyat dan kemandirian bangsa dalam mengatur tata kelola pemerintahan. Apa yang disampaikan Oleh H.O.S Tjokroaminoto telah membawa masyarakat untuk lebih kritis dalam menyikapi penjajahan, selanjutnya masyarakat semakin bergerilya untuk melawan penjajahan. Sebelum akhirnya proklamasi dilakukan oleh muridnya yaitu Soekarno (Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia) pada tanggal 17 Agustus tahun 1945.

Adapun langkah-langkah strategi politik yang dihadirkan oleh H.O.S Tjokroaminoto sebagai berikut :

1. Ideologi Perjuangan yaitu Nasionalisme Islam dan sosialisme Islam

2. Kepemimpinan 

3. Gerakan politik perlawanan terbagi tiga yaitu gerakan politik nasional, melakukan konsolidasi menuju kemerdekaan dan membangun pendidikan tauhid untuk kemakmuran

4. Negara Integralistik

Dari uraian diatas, penulis menyimpulkan bahwa Islam dan politik merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan keduanya sama-sama saling berintegrasi, politik dalam islam menjuruskan kegiatan ummat kepada usaha untuk mendukung dan melaksanakan syariat islam melalui sistem kenegaraan dan pemerintahan. Politik islam merupakan kekuasaan yang dapat melahirkan sikap dan perilaku politik. Islam meletakkan politik sebagai salah satu solusi untuk memecahkan segala urusan umat, sehingga islam dan politik tidak boleh dipisahkan karena islam jika tanpa politik dapat menumbuhkan sistem-sistem pemerintahan dimana kaum muslim yang tidak mempunyai kebebasan dalam melakukan syariat islam. Begitupun politik tanpa Islam hanya mengagungkan kekuasaan, kosong dari aspek moral dan spiritual.


Sumber Referensi :

Jauhari, Idris, Sejarah Nabi Muhammad, Sumenep: Mutiara, 2005.

Natsir M, Islam sebagai dasar Negara, Bandung: Sega Arsy, 2004.

Tjokroaminoto, HOS. Tafsir Program Asas dan Program Tandhim. Jakarta: Putjuk

Pimpinan PSII, 1958.

Tjokroaminoto, Islam dan Sosialisme, Jakarta: Bulan Bintang, 1950.

Tjokroaminoto, Memeriksai Alam Kebenaran, Jakarta: Weltevreden, 1979.

Tjokroaminoto, Moslem National Onderwijs, Malang: Peneleh, 2020.

Tjokroaminoto, Reglement Umum Bagi Umat Islam, Jakarta: Putjuk Pimpinan PSII,

1934.