PENGATAR FILSAFAT
Oleh
: Romaji
Pengetahuan dimulai dari rasa ingin tahu dan kepastian atau
kebenaran dimulai dari rasa ragu-ragu. Sedangkan filsafat dimulai dari
keduanya.
A. Dari Mitos kelogos
Sebelum filsafat lahir dan berkembang pesat, di yunani telah berkembang berbagai mitos. Bahkan filsafat pertama kali berkembang melalui jalan mitologi. Mitos yang berkembang merupkan metode yang dijadikan cara untuk memahami segala sesuatu yang ada.[1] Berbagai pertanyaan terhadap ketidaktahuan atau kepenasaran manusia terhadap eksistensi jagat raya ini, jawabannya hanya ada didalam mitos. Pertanyaan dari mana asal bumi dan bagaimana bumi diciptakan, mengapa iba-tiba bumi menjadi gelap, kemudian terang kembali, sebelum manusia bisa memberikan jawaban yang rasional atau ilmiah manusia hanya menggunakan jawaban dengan pendekatan mitos. Seperti dalam cerita mitologi terjadinya bumi gelap karena digenggam oleh raksasa yang sedang marah. ketika ada petir yang menyambar isi alam semesta manusia mengira dewa zeus sedang marah dan ketika terjadinya tsunami manusia mengira dewa posaidon marah. sehingga manusia harus berusaha merendahkan kemarahannya dengan berbagai cara, misalnya dengan memberikan sesajen, bersujud dan mensakralkan tempat dewa-dewa meyakini adanya kekuatan lain dari alam fisik, adanya para dewa dan sebagainya. khayalan-khyalan itu menjadi keyakinan yang selanjutnya membentuk pemahaman normatif tentang setiap keberadaan dan kekuatan yang ada didalamnya.
Akan tetapi,
ketika zaman semakin maju orang-orang diyunani mulai berikir mengenai
eksistensi alam semesta melalui rasio, karena mereka mengangap jawaban tentang
alam semesta melalui mitos kurang rasional dan tidak masuk akal. Maka muncul
orang-orang seperti solon, bias, pittakos, chilon, periandos, kleobolus, thales,
anaximandros, anaximenes, zeno, Socrates, plato, aristoteles dll. Mereka mulai
melakukan kajian-kajian menganai alam semesta dengan pendekatan logika yang
rasional.
B. Pengertian Filsafat
Filsafat
(dalam bahasa Arab adalah falsafah, dan dalam bahasa Inggris adalah philosophy) berasal dari bahasa Yunani. Kata ini terdiri dari kata ‘philein’ yang berarti cinta (love) dan ‘sophia’
kebijaksanaan (wisdom). Secara etimologis, filsafat berarti
berarti cinta
kebijaksanaan (love of wisdom) dalam artinya sedalam-dalamnya.
Seorang filosof (philosopher) adalah pencinta, pendamba dan pencari
kebijaksanaan. Menurut catatan sejarah, kata ini pertama
kali digunakan oleh Pythagoras,
seorang filosof Yunani yang hidup pada 582-496 sebelum Masehi.
Cicero (106-43 SM), seorang penulis Romawi terkenal
pada zamannya dan sebagian karyanya masih dibaca hingga saat ini, mencatat bahwa
kata ‘filsafat’ dipakai Pythagoras sebagi reaksi terhadap kaum cendekiawan pada masanya yang menamakan
dirinya ‘ahli pengetahuan’ Pythagoras
menyatakan bahwa pengetahuan itu begitu luas dan terus berkembang. Tiada seorangpun yang
mungkin mencapai ujungnya. Jadi,
jangan sombong menjuluki diri kita ‘ahli’ dan ‘menguasai’ ilmu pengetahuan, apalagi kebijaksanaan. Kata
Pythagoras, kita ini lebih cocok
dikatakan sebagai pencari dan pencinta pengetahuan dan kebijaksanaan, yakni filosof.
Adapun ada beberapa ahli dalam mendefinisikan filsafat diantaranya sebagai berikut :
1. Plato (427-347 SM) berpendapat Filsafat adalah ilmu yang membicarakan Hakikat sesuatu.
2. Aristoteles berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang kebenaran yang meliputi Logika,fisika, metafisika dan pengetahuan peraktis.[1]
3. Imanuel Khan (1724-1804) salah seorang filosof diabad modern mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan mengenai pokok pangkal dari segala pengetahuan dan perbuatan.
4. Al-farabi seorang filosof muslim mengatakan bahwa filsafat merupakan ilmu yang bertugas untuk mengetahui semua yang ada karena ia ada (Al-ilmu bi maujudat bima hiya maujudah)
C. Ciri-ciri berfikir Filsafat
Ciri-ciri berfikir filsafat diantaranya sebagai berikut :[1]
- Universal (menyeluruh), yaitu pemikiran yang luas dan tidak aspek tertentu saja.
- Radikal (mendasar), yaitu pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang fundamental dan essensial.
- Sistematis, yaitu mengikuti pola dan metode berpikir yang runtut dan logis meskipun spekulatif.
- Deskriptif, yaitu suatu uraian yang terperinci tentang sesuatu, menjelaskan mengapa sesuatu berbuat begitu.
- Kritis, yaitu mempertanyakan segala sesuatu (termasuk hasil filsafat).
- Spekulatif, yaitu upaya akal budi manusia yang bersifat perekaan, penjelajahan dan pengandaian dan tidak membatasi hanya pada rekaman indera dan pengamatan lahiriah
D. Objek kajian filsafat
Yang menjadi objek kajian filsafat secara umum
meliputi sebagai berikut :
- teologis
- cosmologis
- antropologis
- Ontologi (apa)
- Epistimologi (Bagaimana)
- Aksiologi (Nilai)
- Filsafat tentang pengetahuan yaitu Epistemologi, Logika, Kritik Ilmu
- Filsafat tentang kenyataan menyeluruh yaitu Metafisika umum (ontologi), Metafisika khusus, teologi metafisika, antropologi, kosmologi.
- Filsafat tentang tindakan yaitu, Etika dan Estetika
- Kebenaran koherensi : Kebenaran koherensi adalah teori kebenaran yang didasarkan kepada kriteria koheren atau konsistensi. Suatu pernyataan disebut benar bila sesuai dengan jaringan komprehensif dari proposisi-proposisi yang berhubungan secara logis. Yaitu induksi dan deduksi.
- Kebenaran
korespondensi : Teori
kebenaran korespondensi adalah teori yang berpandangan bahwa kebenaran bisa
dikatakan benar ketika sesuai dengan fakta dilapangan atau pada objek yang
dituju.
- kebenaran pragmatis : Kebenaran pragmatis berpandangan bahwa arti dari ide dibatasi oleh referensi pada konsekuensi ilmiah, personal atau sosial. benar tidaknya dalil dan teori tergantung pada faedahnya bagi kehidupan manusia.
- kebenaran Konsensus : Kebenaran konsensus adalah proses penilaian kebenaran hanya karena orang-orang menyetujui
- kebenaran Otoritas : Kebenaran otoritas adalah kebenaran yang dikatakan oleh orang-orang yang mempunyai power atau pihak penguasa..
kegunaan belajar filsafat adalah kemampuannya untukmemperluas bidang-bidang keinsafan kita. Banyak orang memiliki pengetahuan yang banyak tetapi picik, mempunyai keterampilan yang berharga, tetapi tidak berwawasan, dan berkuasa tetapi tidak berprikemanusiaan. Mereka tidak insyaf. Mereka laksana katak dalam tempurung. Karena tersungkup dalam ruang kecil pengap, mereka menyombongkan diri dan mengira bahwa merekalah paling pintar, paling terampil, paling berkuasa, paling ahli, dan paling segalanya. Filsafat akan mampu menguakkan awan tebal yang meliputi surya kearifan, serta mampu membebaskan mereka dari ‘tempurung yang menyesatkan itu’. Ketidakmampuan filsafat memberikan jawaban pasti terhadap permasalahan kehidupan akan membuat kita sadar, insyaf dan tidak sombong atas keterbatasan manusia sebagai manusia dengan belajar filsafat kita akan lebih manusiawi. Seperti yang diungkapkan oleh filsuf agung Socrates “kebijaksanaan sejati kita sadar bahwa diri kita tidak tau apa-apa”.
Referensi :
Atang
Abdul Hakim & Beni Ahmad Saebani, Filsafat
Umum dari metologi sampai teofilosofi, Bandung : Pustaka setia, 2018.
https://bengkelnarasi.com/2021/09/12/belajar-filsafat-teori-teori-kebenaran/
Nur
A Fadhil Lubis, pengantar Filsafat Umum,
Medan : Perdana Publishing, 2015.
Nurani Suyomukti, pengantar Filsafat Umum, Jogjakarta : ar-ruzz media, 2011.
Beni Ahmad Saebani, Filsafat Manajemen, Bandung : Pustaka
Setia, 2017.
