Rabu, 26 Oktober 2022

Pengantar Filsafat



PENGATAR FILSAFAT

Oleh :  Romaji 

Pengetahuan dimulai dari rasa ingin tahu dan kepastian atau kebenaran dimulai dari rasa ragu-ragu. Sedangkan filsafat dimulai dari keduanya.


A. Dari Mitos kelogos

Sebelum filsafat lahir dan berkembang pesat, di yunani telah berkembang berbagai mitos. Bahkan filsafat pertama kali berkembang melalui jalan mitologi. Mitos yang berkembang merupkan metode yang dijadikan cara untuk memahami segala sesuatu yang ada.[1] Berbagai pertanyaan terhadap ketidaktahuan atau kepenasaran manusia terhadap eksistensi jagat raya ini, jawabannya hanya ada didalam mitos. Pertanyaan dari mana asal bumi dan bagaimana bumi diciptakan, mengapa iba-tiba bumi menjadi gelap, kemudian terang kembali, sebelum manusia bisa memberikan jawaban yang rasional atau ilmiah manusia hanya menggunakan jawaban dengan pendekatan mitos. Seperti dalam cerita mitologi terjadinya bumi gelap karena digenggam oleh raksasa yang sedang marah. ketika ada petir yang menyambar isi alam semesta manusia mengira dewa zeus sedang marah dan ketika terjadinya tsunami manusia mengira dewa posaidon marah. sehingga manusia harus berusaha merendahkan kemarahannya dengan berbagai cara, misalnya dengan memberikan sesajen, bersujud dan mensakralkan tempat dewa-dewa meyakini adanya kekuatan lain dari alam fisik, adanya para dewa dan sebagainya. khayalan-khyalan itu menjadi keyakinan yang selanjutnya membentuk pemahaman normatif tentang setiap keberadaan dan kekuatan yang ada didalamnya.

Akan tetapi, ketika zaman semakin maju orang-orang diyunani mulai berikir mengenai eksistensi alam semesta melalui rasio, karena mereka mengangap jawaban tentang alam semesta melalui mitos kurang rasional dan tidak masuk akal. Maka muncul orang-orang seperti solon, bias, pittakos, chilon, periandos, kleobolus, thales, anaximandros, anaximenes, zeno, Socrates, plato, aristoteles dll. Mereka mulai melakukan kajian-kajian menganai alam semesta dengan pendekatan logika yang rasional.

B. Pengertian Filsafat 

Filsafat (dalam bahasa Arab adalah falsafah, dan dalam bahasa Inggris adalah philosophy) berasal dari bahasa Yunani. Kata ini terdiri dari kata ‘philein’ yang berarti cinta (love) dan sophia’ kebijaksanaan (wisdom). Secara etimologis, filsafat berarti berarti cinta kebijaksanaan (love of wisdom) dalam artinya sedalam-dalamnya. Seorang filosof (philosopher) adalah pencinta, pendamba dan pencari kebijaksanaan. Menurut catatan sejarah, kata ini pertama kali digunakan oleh Pythagoras, seorang filosof Yunani yang hidup pada 582-496 sebelum Masehi.

Cicero (106-43 SM), seorang penulis Romawi terkenal pada zamannya dan sebagian karyanya masih dibaca hingga saat ini, mencatat bahwa kata ‘filsafat’ dipakai Pythagoras sebagi reaksi terhadap kaum cendekiawan pada masanya yang menamakan dirinya ‘ahli pengetahuan’ Pythagoras menyatakan bahwa pengetahuan itu begitu luas dan terus berkembang. Tiada seorangpun yang mungkin mencapai ujungnya. Jadi, jangan sombong menjuluki diri kita ‘ahli’ dan ‘menguasai’ ilmu pengetahuan, apalagi kebijaksanaan. Kata Pythagoras, kita ini lebih cocok dikatakan sebagai pencari dan pencinta pengetahuan dan kebijaksanaan, yakni filosof.

Adapun ada beberapa ahli dalam mendefinisikan filsafat diantaranya sebagai berikut :

1. Plato (427-347 SM) berpendapat Filsafat adalah ilmu yang membicarakan Hakikat sesuatu.

2. Aristoteles berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang kebenaran yang meliputi Logika,fisika, metafisika dan pengetahuan peraktis.[1]

3. Imanuel Khan (1724-1804) salah seorang filosof diabad modern mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan mengenai pokok pangkal dari segala pengetahuan dan perbuatan.

4. Al-farabi seorang filosof muslim mengatakan bahwa filsafat merupakan ilmu yang bertugas untuk mengetahui semua yang ada karena ia ada (Al-ilmu bi maujudat bima hiya maujudah)

C. Ciri-ciri berfikir Filsafat

Ciri-ciri berfikir filsafat diantaranya sebagai berikut :[1]

  1.   Universal (menyeluruh), yaitu pemikiran yang luas dan tidak aspek tertentu saja.
  2. Radikal (mendasar), yaitu pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang fundamental dan essensial.
  3. Sistematis, yaitu mengikuti pola dan metode berpikir yang runtut dan logis meskipun spekulatif.
  4. Deskriptif, yaitu suatu uraian yang terperinci tentang sesuatu, menjelaskan mengapa sesuatu berbuat begitu.
  5. Kritis, yaitu mempertanyakan segala sesuatu (termasuk hasil filsafat).
  6. Spekulatif, yaitu upaya akal budi manusia yang bersifat perekaan, penjelajahan dan pengandaian dan tidak membatasi hanya pada rekaman indera dan pengamatan lahiriah

D. Objek kajian filsafat

Yang menjadi objek kajian filsafat secara umum meliputi sebagai berikut :

  1. teologis
  2. cosmologis
  3. antropologis
E. Landasan-landasan Berfikir Filsafat
  1. Ontologi (apa)
  2. Epistimologi (Bagaimana)
  3. Aksiologi (Nilai)
F. Kedudukan Cabang-cabang Filsafat

Filsafat menempati suatu tingkat paling tinggi dalam kaitannya dengan segala ilmu pengetahuan yang ada dialam semesta, dalam belantara kajian filsafat kita akan mengetahui betapa luas kajian filsafat masuk keberbagai aspek kehidupan dari awal zaman maupun akhir zaman. Sehingga filsafat banyak memberikan jasa bagi disiplin ilmu yang semuanya bercabang-cabang dan berkembang sesuai dengan disiplin masing-masing.
Berikut beberapa pengertian mengenai cabang-cabang ilmu pengetahuan sebagai berikut :
Harry Hamersma membagi cabang-cabang filsafat menjadi tiga, yakni:
  1.  Filsafat tentang pengetahuan yaitu Epistemologi, Logika, Kritik Ilmu
  2. Filsafat tentang kenyataan menyeluruh yaitu Metafisika umum (ontologi),  Metafisika khusus, teologi metafisika, antropologi, kosmologi.
  3. Filsafat tentang tindakan yaitu, Etika dan Estetika
    Di samping itu, masih menurut Hamersma, ada cabang-cabangfilsafat khusus, antara lain: filsafat  seni, filsafat kebudayaan, filsafat pendidikan, filsafat sejarah, filsafat bahasa, filsafat hukum, filsafat agama, filsafat sosial, dan filsafat politik. Berdasarkan pembagian cabang filsafat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa tampak demikian luas bidang penelaahan filsafat itu. Padahal, cabang-cabang tersebut masih dapat diperinci lagi menjadi ranting-ranting, dan sebagiannya bahkan berkembang menjadi bidang filsafat yang berpengaruh. Hal ini kembali kepada ciri filsafat bahwa ia bersifat umum, universal dan ultimate (tertinggi).

G. Teori Kebenaran
  1. Kebenaran koherensi : Kebenaran koherensi adalah teori kebenaran yang didasarkan kepada kriteria koheren atau konsistensi. Suatu pernyataan disebut benar bila sesuai dengan jaringan komprehensif dari proposisi-proposisi yang berhubungan secara logis. Yaitu induksi dan deduksi.
  2. Kebenaran korespondensi : Teori kebenaran korespondensi adalah teori yang berpandangan bahwa kebenaran bisa dikatakan benar ketika sesuai dengan fakta dilapangan atau pada objek yang dituju.

  3. kebenaran pragmatis : Kebenaran pragmatis berpandangan bahwa arti dari ide dibatasi oleh referensi pada konsekuensi ilmiah, personal atau sosial. benar tidaknya dalil dan teori tergantung pada faedahnya bagi kehidupan manusia.
  4. kebenaran Konsensus : Kebenaran konsensus adalah proses penilaian kebenaran hanya karena orang-orang menyetujui
  5. kebenaran Otoritas : Kebenaran otoritas adalah kebenaran yang dikatakan oleh orang-orang yang mempunyai power atau pihak penguasa..
H. Manfaat Belajar Filsafat

kegunaan  belajar filsafat adalah kemampuannya untukmemperluas bidang-bidang keinsafan kita. Banyak orang memiliki pengetahuan yang banyak tetapi picik, mempunyai keterampilan yang berharga, tetapi tidak berwawasan, dan berkuasa tetapi tidak berprikemanusiaan. Mereka tidak insyaf. Mereka laksana katak dalam tempurung. Karena tersungkup dalam ruang kecil pengap, mereka menyombongkan diri dan mengira bahwa merekalah paling pintar, paling terampil, paling berkuasa, paling ahli, dan paling segalanya. Filsafat akan mampu menguakkan awan tebal yang meliputi surya kearifan, serta mampu membebaskan mereka dari ‘tempurung yang menyesatkan itu’. Ketidakmampuan filsafat memberikan jawaban pasti terhadap permasalahan kehidupan akan membuat kita sadar, insyaf dan tidak sombong atas keterbatasan manusia sebagai manusia dengan belajar filsafat kita akan lebih manusiawi. Seperti yang diungkapkan oleh filsuf agung Socrates “kebijaksanaan sejati kita sadar bahwa diri kita tidak tau apa-apa”.


Referensi :

Atang Abdul Hakim & Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum dari metologi sampai teofilosofi, Bandung : Pustaka setia, 2018.

https://bengkelnarasi.com/2021/09/12/belajar-filsafat-teori-teori-kebenaran/

Nur A Fadhil Lubis, pengantar Filsafat Umum, Medan : Perdana Publishing, 2015.

Nurani Suyomukti, pengantar Filsafat Umum, Jogjakarta : ar-ruzz media, 2011.

Beni Ahmad Saebani, Filsafat Manajemen, Bandung : Pustaka Setia, 2017.