Senin, 11 Maret 2019



AKAD MURABAHAH 
Oleh: Mufidatus Sa’adah 
Mahasiswi Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Wali Songo Sampang
 Keder Himpunan mahasiswa islam (HMI)
A. Pengertian Murabahah 
Murabahah adalah suatu bentuk transaksi jual beli dengan tujuan utama berbagi laba/keuntungan penjualan antara pemodal dan wakilnya. Murabahah sendiri berasal dari kata ar-ribhu dari bahasa Arab yang artinya adalah kelebihan atau tambahan (keuntungan). Sedangkan sebagai istilah, definisi murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. 
B. Landasan Syariah Murabahah 
1. Al-Qur’an: 
    1. (Q.S.al-Baqarah (2): 275) 
Artinya: “Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkanriba.” 
    2. (Q.S.an-Nisa’ (4): 29) 
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu ; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. 
2. Hadits: 
“Dari Shaleh bin suhaib r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual. (H.R Ibnu Majah)”. 
3. Ijma’: 
Umat Islam telah berkonsensus tentang keabsahan jual beli, karena manusia sebagai anggota masyarakat selalu membutuhkan apa yang dihasilkan dan dimiliki oleh orang lain. Oleh karena itu jual beli adalah salah satu jalan untuk mendapatkannya secara sah. Dengan demikian mudahlah bagi setiap individu utnuk memenuhi kebutuhannya 
4. Kaidah Fiqh, yang menyatakan: 
 الأصَْلُ فىِ المُعَامَلاتَِ الإبَِاحَة ُ إلِا َّ أنَْ يَدُلَّ دَليِْلٌ عَلىَ تَحْرِيْمِهَا
”Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.” 
5. Fatwa Dewan Syariah Nasonal Majelis Ulama Indonesia No.04/DSN-
MUI/IV/2000, tentang MURABAHAH 

C. Rukun Murabahah 
1. Pihak yang berakad (al-‘aqid) 
Adapun syarat pihak yang berakad adalah 
a. Berakal  
b. Yang melakukan akad adalah orang yang berbeda 
c. Sukarela (ridha), tidak dalam keadaan terpaksa atau berada dibawah tekanan atau ancaman 
2. Objek akad, yaitu barang dan atau harga (ma’qud alaih) 
Untuk melengkapi keabsahan jual beli, barang atau harga harus memenuhi syaratsyarat sebagai berikut: a. Barang itu ada. 
b. Dapat dimanfaatkan dan bermanfaat bagi manusia. 
c. Milik penjual. 
d. Boleh diserahkan langsung atau pada waktu yang disepakati bersama ketika transaksi berlangsung. 
e. Diketahui keadaan jenis (kuantitas dan kualitas) dan harganya. 
f. Barang yang diperjual belikan harus ada di genggaman. 
3. Sighat (ijab dan qabul) 
Adapun syarat-syarat sighat adalah: 
a. Tidak ada masa tenggang terlalu lama anta ijab dan qabul. 
b. Adanya kesepakatan. 
c. Adanya hubungan kedua belah pihak. 
d. Tidak adanya perubahan akad. 

D. Syarat Murabahah 
1. Mengetahui Harga pokok 
2. Mengetahui Keuntungan 
3. Harga pokok dapat dihitung dan diukur 
4. Harga pokok harus dapat diukur, baik menggunakan takaran, timbangan ataupun hitungan. 
5. Jual beli murabahah tidak bercampur dengan transaksi yang mengandung riba. 
6. Akad jual beli pertama harus sah. 
E. Jenis – Jenis Murabahah 
Murabahah pada prinsipnya adalah jual beli dengan keuntungan, hal ini bersifat dan berlaku umum pada jual beli barang-barang yang memenuhi syarat jual belimurabahah. Dalam prakteknya pembiayaan murabahah yang diterapkan Bank Bukopin Syariah terbagi kepada 3 jenis, sesuai dengan peruntukannya, yaitu: 
1. Murabahah Modal Kerja (MMK), yang diperuntukkan untuk pembelian barangbarang yang akan digunakan sebagai modal kerja. Modal kerja adalah jenis pembiayaan yang diperlukan oleh perusahaan untuk operasi sehari-hari. Penerapan murabahah untuk modal kerja membutuhkan kehati-hatian, terutama bila obyek yang akan diperjualbelikan terdiri dari banyak jenis, sehingga dikhawatirkan akan mengalami kesulitan terutama dalam menentukan harga pokok masing-masing barang. 
2. Murabahah Investasi (MI), adalah pembiayaan jangka menengah atau panjang yang tujuannya untuk pembelian barang modal yang diperlukan untuk rehabilitasi, perluasan, atau pembuatan proyek baru. 
3. Murabahah Konsumsi (MK), adalah pembiayaan perorangan untuk tujuan nonbisnis, termasuk pembiayaan pemilikan rumah, mobil. Pembiayaan konsumsi biasanya digunakan untuk membiayai pembelian barang konsumsi dan barang tahan lama lainnya. Jaminan yang digunakan biasanya berujud obyek yang dibiayai, tanah dan bangunan tempat tinggal. 
Al-Bai’ Naqdan wal Murabahah Muajjal, bayar cicilan. Dalam praktek yang dilakukan oleh bank syariah saat ini adalah murabahah berdasarkan pesanan, sifatnya mengikat dengan pembayaran tangguh. Dalam perbankan, murabahah lazimnya dilakukan dengan cara pembayaran cicilan (bitsaman ajil). Dalam transaksi ini barang diserahkan segera setelah akad sedangkan pembayaran dilakukan secara tangguh. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar