Jumat, 13 Agustus 2021

Socrates dan Kaum Shopis, buzzer dan Socrates baru


                  Socrates dan Kaum Shopis,  buzzer dan Socrates baru

Oleh : Romaji

Ketua Umum BPL HMI Cabang (P) Sampang

Disaat mata hari sudah mulai redup atau bisa dikatakan senja dalam bahasa sastranya, penulis menyempatkan diri untuk membuka buku yang berjudul filsafat perselingkuhan karangan Reza A.A Wattimewa. Disitu penulis membaca bab pertama yang menceritakan tentang tokoh filsuf tersohor yaitu Socrates didalam buku tersebut mengungkapkan bahwa kita sebagai manusia harus bisa meneladani seorang Socrates yang rela dihukum mati oleh rezim pada waktu itu, karena Socrates sendiri berdiri tegak dijalan yang benar, dia berani mengungkapkan kebenaran maskipun resikonya begitu berat bahkan nyawa yang menjadi taruhannya. Pada waktu itu Sistem pemerintahan diYunani Para rezim menyewa orang-orang  yang cerdas dalam beretorika yang disebut dengan kaum shopis untuk mengunggulkan masa pemerintahannya, dan dianggap apa yang dikatakan kaum shopis adalah kebenaran sedangkan kaum shopis sendiri membela pemerintah karena mereka dibayar, selain itu kaum shopis dikatakan kaum yang menjajakan ilmunya untuk suatu bayaran. Maka disitu Socrates tampil dengan kesederhaannya mengajak mereka berdebat ditempat-tempat umum seperti  dipasar. Dalam kasus situasi itulah Socrates tampil dengan mengunakan metode dialektika kritis untuk menghadapi kelihaian silat lidah kaum shopis. proses dealektika disini mengandung arti dialog antara dua pendirian yang bertentangan, sedaangkan sikap kritis itu berarti Socrates tidak mau menerima begitu saja sesuatu pengertian dari orang yang dianggapnya ahli dalam bidangnya tersebut. Socrates selalu menuntut terhadap kaum shopis untuk mempertanggung jawabkan pengetahuannya dengan alasan yang benar yaitu diuji dengan menggunakan metode dealektis kritis. Dan akhirnya semua argumentasi kaum shopis dibantahkan oleh Socrates. Dari cerita ditas sebenarnya kalau dihubungkan dengan kontek hari ini khususnya di Indonesia, penulis mengibaratkan seperti para buzzer yang dibayar oleh rezim untuk membela system pemerintahan hari ini, entah itu dikalangan akademisi, pemerintah, tokoh agama, politisi, mahasiswa, pemuda, media, dan lain sebagainya. Maskipun kebijakan pemerintah dan system pemerintahan yang kurang sehat mereka tetap membela dengan retorika lingguistik supaya tetap mendapatkan bayaran dan kedudukan yang baik. Yang paling parah ketika ada seseorang yang tampil menjadi Socrates baru ditahun 2021 ini, mereka para buzzer atau kaum shopis selalu mencari celah untuk melakukan perlawanan. Kalau dulu Socrates berdebat dengan kaum shopis ditempat-tempat umum dipasar dengan menggunakan Dealektika kritisnya, Socrates hari ini berdebat di ILC atau berdebat dimedia sosial dengan mengunakan dealektika kritis dan realitas.  Maskipun sejauh penulis ikuti alur perdebatan ini para buzzer tidak pernah memenangkan dialog oleh para Socrates-socrates baru seperti Rocky Gerung, ichsanuddin Noorcy, Habib Rizieq Shihab dan para Socrates lainnya.

Semoga tulisan ini bisa memberikan manfaat dan bisa melahirkan para Socrates-Socrates baru yang berani menyampaikan kebenaran demi kemaslahatan umat manusia, agama maupun bangsa dan semoga Negara Indonesia ini kembali aman dan sejahtera.

wallahu’alam.

Billahih taufiq walhidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar