Rabu, 24 Juli 2019







KENAPA DIRIMU MENJADI MAHASISWA BONEKA ?
(OLEH: Romaji kader HMI STEI WALI SONGO Sampang)


Mahasiswa sekarang sepertinya sudah tidak bisa berfikir bebas dalam berproses dan melangkah, berbicara serta tidak bisa mengikuti nalar fikirnya dan apa kata intuisi dan jiwanya. Sehingga kehidupannya selalu di dikti oleh simbol simbol bendera dan rayuan rayuan manis dari golongan tertentu, sifat independensi (kemandirian dari dalam dirinya) sudah luntur dimakan domba domba yang tak bertanggung jawab. mahasiswa sudah tidak tajam lagi ketika di hadapkan dengan dinamika sosial yang seakan mereka bangga dengan dirinya yang merasa hebat. Padahal ketika di tanya mahasiswa sekarang, kenapa kamu masuk Golongan A lalu menjawab diajak kakak senior gak enak sama senior dan lain sebagainya.
Awal menjadi mahasiswa mungkin otak dan fikirannya masih suci serta prilakunya masih polos.ibarat kertas putih yang masih kosong (tabularasa) kertas itu bisa berwarna ketika setiap kali bercengkraman dengan lingkungan dunia kampus. Terbisik rayuan manis di alam bawah sadar sehingga mahasiswa tindakannya tidak murni 100 %. Sedangkan kata filosof jerman Ficther mengatakan bahwa tugas moral manusia didasarkan atas fikiran bahwa manusia berkewajiban menghargai dirinya sebagai makhluk yang bebas bahwa iya senantiasa berbuat dengan tidak memperkosa kebebasan dalam dirinya.
Alangkah berbahagianya ketika mahasiswa bisa mengerjakan apa yang di kerjakan pula oleh seniornya, tapi semua itu menjadi polemik dalam proses pribadinya kedepan bagi mahasiswa. Egoisme senioritas selalu menceritakan masa kelam yang mungkin ingin di terbitkan dimasa masa ke emasan mahasiswa baru dengan meracuni mendsheet dan proses yang akan dilalui mereka. Sehingga proses itu menjadi permainan belaka dan pada akhirnya menjadi mahasiswa ikut ikutan. Independensi mahasiswa menjadi tolak ukur agen pembaharuan bagi lingkungan kampus dan society. Dalam hal ini, mahasiswa di tuntut untuk menemukan jati diri pribadinya tanpa ada rayuan dari domba domba kampus atau dokrinan yang membahayakan terhadap proses dan tujuannya sebagai agen social control.
Banyak kita temukan mahasiswa yang hanya bermodal ikut ikutan tanpa memikirkan apa dampak dari aktivitasnya. Oleh karna itu, mahasiswa harus selalu menjadikan langkahnya sebagai bumerang agar tidak mudah mengikuti hal hal baru yang akan mengotori proses dan keinginannya selama menjadi maha di atas kesiswaannya. Kadangkala mahasiswa berubah seratus delapan puluh derajat dari karakter aslinya. Yang awal masuk kedunia kampus mempunyai ahlak yg baik dan pada akhirnya ahlaknya mengalami regres yang sangat pesat.Socrates berpandangan tentang etika bermula dari definisinya tentang akal budi. Budi ialah tau inilah inti dari etikanya orang yang berpengetahuan dengan sendirinya akan berbuat baik, artinya mahasiswa harus bisa menjaga atau merawat logikanya supaya aktifitasnya sesuai dengan hati dan pikirannya.
Dengan demikian moral sebagai sebuah wejangan perbuatan mahasiswa perlu di upayakan pembelajaran moral, penekanan ini bukan hanya terbatas pada pengetahuan tentang moral akan tetapi lebih pada perasaan moral yaitu menjadikan moral sebagai pribadi mahasiswa yang harus di lanjutkan pada aksi moral yaitu moral di jadikan aksi dalam kehidupan sehari hari.



Yakin usaha sampai 
Bahagia HMI
Sampang 24 juli 2019


Referensi:
Drs.Atang abdul Hakim. 2018.Filsafat Umum.Cv Pustaka setia. Hlm. 271.

Drs.Atang abdul Hakim. 2018.Filsafat Umum.Cv Pustaka setia. Hlm. 256.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar