“Cinta dan Kebijaksanaan”
Oleh : Romaji
Mungkin malam ini penulis teringat dengan cinta yang sudah diselami selama beberapa tahun terakhir, penulis berfikir bahwa ucapan dalam cinta adalah ucapan pertanggung jawaban diantara hati dan jiwa serta realitas dalam pengaplikasian. Tetapi ucapan dalam cinta hanyalah ke-egoisan prasaan yang buta tanpa ada landasan yang jelas untuk dijadikan pembuktian dalam hidup.
Karena, setiap ucapan yang keluar dari ikatan cinta semuanya akan berubah menjadi caci maki ketika prasaan itu sudah hilang. Benar apa yang dirasakan penulis bahwa manusia sulit menjadi manusia yang bijaksana. Karena penilain baik seseorang hanya difokuskan pada apa yang menjadi kenyamanan dalam hati dan jiwanya. Orang yang merasa nyaman dalam hidupnya pasti ia menilai semua kelakuannya adalah kebaikan dan kesempurnaan, tetapi bagi orang yang sudah dibenci semua kebaikan berubah menjadi keburukan ibarat bangkai yang sudah dimakan ulat. begitulah sifat manusia yang jarang sekali mengingat kebaikan seseorang. Penulis teringat dengan apa yang pernah disampaikan oleh cak nun bahwa manusia ini mempunyai kultur mengingat kesalahan orang lain dari pada kebaikan orang lain. Belum tentu ketika manusia melakukan seribu kebaikan manusia mau mengakui salah satu diantaranya, tetapi, jika manusia membuat satu kesalahan maka akan dihanguskan seribu kebaikan. Saya teringat dengan pepatah yang sangat sederhana tetapi mengandung makna filosofis dan penuh kebijaksanaan dalam menilai segala sesuatu dalam diri manusia.
Segemuk-genuknya ikan pasti ada Tulangnya
Sekurus-kurusnya Ikan Pasti ada Dagingnya
Sebaik-baiknya manusia pasti ada buruknya
Seburuk-buruknya manusia pasti ada baiknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar